RSS
Selamat Datang, di dunia online milik saya, domain personal mulyantono.com. subdomain ber title mozaik ini adalah serangkaian tulisan terkait dengan buletin mozaik surau.
ads

Ubudiyyah

0 komentar

Selasa, 24 November 2009

Dalam Tarekat Naqsyabandiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya istilah ubudiyyah begitu populer. Kerja bakti gotong-royong membangun, memersihkan dan merapikan tempat wirid (surau) disebut ubudiyyah. Jamaah melakukan karya apa pun untuk kemajuan dan perkembangan tarekat disebutnya sebagai ubudiyyah. Sebenarnya apa pengertian ubudiyyah?

Secara asal kata (etimologi), ubudiyyah merupakan kosa kata Bahasa Arab dalam bentuk masdar (kata benda) dari kata kerja abada-ya’budu, yang secara kebahasaan berarti beribadah yang mencakup pengesaan, ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan. Dengan demikian, ubudiyyah dapat diartikan sebagai pelaksanaan ibadah.

Adapun secara terminologi, ada beberapa pengertian ubudiyyah yang dirumuskan para ahli tasawuf diantaranya : (1) ubudiyyah adalah keadaan seorang hamba yang ikhlas dan ridla terhadap semua yang telah ditetapkan Tuhan atas dirinya. (2) ubudiyyah adalah menegakkan ketaatan yang sungguh-sungguh dengan pengagungan, menilai semua yang berasal dari diri sendiri sebagai sesuatu yang rendah, dan mengakui bahwa segala yang dihasilkan dari kehidupannya sebagai ketetapan. (3) ubudiyyah adalah meninggalkan upaya untuk memilih sesuatu yang dinilai secara nyata sebagai ketetapan. (4) ubudiyyah adalah menolak daya upaya dan kekuatan, serta mengakui segalanya yang telah diberikan dan diatur Allah SWT, seperti umur, anugerah, dan lainnya. (5) ubudiyyah adalah melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan dan menjauhi yang dilarang.

Dalam ajaran tasawuf, ubudiyyah sering dirangkaikan dengan ibadah dan ubudah. Susunan dari ketiganya adalah ibadah, ubudiyyah, dan ubudah. Syaikh Abu Ali al-Hasan ibn Ali an-Naisaburi al-Daqqaq (w 405 H) menegaskan bahwa ubudiyyah lebih sempurna dari ibadah. Dari ketiga rangkaian itu, tingkat yang paling dasar adalah ibadah, kemudian disusul ubudiyyah, dan yang paling tinggi adalah ubudah.

Selanjutnya guru sufi dari Abd al Karim al-Qusyayri (w.465 H/1073 M) ini menyatakan pula bahwa ibadah itu dimiliki orang yang masih awam (orang kebanyakan), ubudiyyah dimiliki orang khawwas (orang khusus/yang keyakinan dan pengetahuannya lebih mendalam), dan ubudah hanya dimiliki oleh orang yang disebut sebagai khawwas al-khawwas (orang khusus dari yang khusus).

Ibadah dimiliki mereka yang telah sampai pada tingkat ilm al-yaqin, ubudiyyah dimiliki mereka yang telah mencapai tingkat ayn al-yaqin, dan ubudah hanya dimiliki mereka yang telah mencapai tingkat haqq al-yaqin.

Selanjutnya dikatakan, ibadah dimiliki orang yang selalu malakukan mujahadah (selalu bersungguh-sungguh dalam muamalahnya dengan Tuhan), ubudiyyah dimiliki orang yang berada dalam kondisi mukabidah (yang selalu bersikap sabar ketika terbebani oleh cobaan yang berat), dan ubudah dimiliki orang yang telah mencapai pengalaman musyahadah (yang telah menyaksikan keagungan Tuhan).

Jadi, orang yang tidak mengeluh kepada Allah, jiwanya dalam keadaan ibadah, dan siapa yang tidak bakhl (kikir) jiwanya maka dialah pemilik ubudiyyah, dan siapa yang tidak bakhl ruhnya, maka dialah pemilik ubudah. “Dengan demikian, engkau akan menjadi hamba dari siapa pun yang mengikatmu. Jika engkau terikat kepada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi hamba bagi dirimu sendiri. Jika engkau terikat pada kehidupan duniawi, maka engkau akan menjadi hamba bagi kehidupan duniawimu.”

Berkenaan dengan ini Syaikh al-Daqqaq mengutip sabda Rasululah SAW, “Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, dan celakalah hamba yang berpakaian mewah’ (HR Bukhari).

Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Sahl ibn Ata’ al-Adami atau yang populer dengan sebutan Ibn Ata’ (w 309 H/922 M), murid Abu al-Qasim al-Junayd al Baghdadi (w 297 H/909 M) mengatakan, ada empat pilar ubudiyyah , yaitu kesetiaan pada sumpah yang diucapkan (memenuhi janji), menjaga batas-batas yang telah ditetapkan, merasa puas (ridla) terhadap apa yang dimiliki, dan bersabar terhadap apa yang belum diperoleh.

Menurut sebagian sufi, puncak terakhir ubudiyyah adalah kebebasan. Maksudnya, bahwa pada hakikatnya seorang manusia itu tidak akan menjadi hamba yang baik sampai ia dapat memusatkan seluruh perhatiannya kepada Allah sehingga hati dan jiwanya terbebas dari segala sesuatu selain Allah.

Dikutip dari Ensiklopedi Tasawuf, Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah, Penerbit Angkasa Bandung (2008)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

La-Tahzan

0 komentar

Jumat, 16 Oktober 2009

Terlalu banyak alasan untuk bersedih. Mulai dari persoalan yang dipandang sebagai sesuatu yang kecil sampai pada yang dianggap persoalan besar. Tapi besar atau kecil persoalan, kalau mau sedih, ya sedih saja. Air mata yang menetes adalah air mata yang sama.
Maka sangatlah laris buku-buku self-help untuk mengusir dan menghibur kesedihan. Simaklah buku-buku seperti The Magic of Thinking Big karya David J. Schwart, How to Stop Worrying and Start Living karya Dorothy Sarnoff atau The Seven Habits of Highly Effective People tulisan Steven R. Covey, dan karya penulis Timur Tengah, Dr. ‘Aidh al-Qarni berjudul La Tahzan – Jangan Bersedih!
Menurut Dr. ‘Aidh al-Qarni, orang cerdik akan selalu berusaha mengubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda. Ketika tertimpa suatu musibah, kita harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi segelas air lemon, perlu ditambahkan sesendok gula ke dalamnya agar terasa lebih nikmat. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kalajengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh apabila terkena racun atau bisa ular. Kendalikan diri dalam berbagai kesulitan yang menghadang. Belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta ada pahala di dalamnya. La Tahzan!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Inspirasi Masyarakat Madani

0 komentar

Rabu, 14 Oktober 2009

Hijrah menandai awal era Muslim, karena pada titik inilah Nabi Muhammad SAW mampu menerapkan gagasan Qur’ani secara maksimal dan Islam menjadi sebuah faktor dalam sejarah. Ini adalah sebuah langkah revolusioner.
Hijrah bukanlah sekadar perubahan alamat. Di Arab sebelum Islam, suku adalah nilai suci. Meninggalkan kelompok darah sendiri dan bergabung dengan suatu kelompok darah orang lain adalah suatu hal yang belum pernah terdengar. Hal ini pada prinsipnya menghina nenek-moyang sendiri dan kaum Quraisy tidak bisa memaafkan kesalahan ini. Mereka bersumpah untuk memusnahkan ummah yang berhijrah ke Yatsrib.
Nabi Muhammad SAW telah menjadi kepala sebuah kumpulan dari kelompok-kelompok kesukuan yang tidak terikat bersama karena darah, tetapi karena suatu ideologi bersama, sebuah inovasi yang mengagumkan di masyarakat Arab. Tidak ada seorang pun yang terpaksa berubah menjadi beragama Qur’an, tetapi kaum Muslim, pemuja berhala, Yahudi dan Nasrani, semuanya menjadi satu ummah, tidak bisa saling menyerang, dan berjanji untuk saling melindungi.
Karen Armstrong dalam Islam; Sejarah Singkat menulis, Yatsrib menjadi dikenal sebagai Madinah (Kota), karena menjadi pola masyarakat Muslim yang sempurna. Pada saat Nabi Muhammad SAW sampai Madinah, salah satu tindakannya adalah membangun sebuah masjid (masjid; secara harfiah adalah ‘tempat untuk sujud’). Masjid selesai dibangun dalam bentuk yang amat sederhana. Lantainya terbuat dari kerikil dan pasir, atapnya terbuat dari pelepah dan daun kurma dan tiang-tiangnya terbuat dari batang kurma. Bila hujan turun mungkin tanahnya akan becek dan mengundang jenis binatang tertentu untuk mondar-mandir di tempat itu.
Bangunan masjid yang amat sederhana itulah yang mengasuh manusia-manusia beriman teguh, yang akan memberi ‘pelajaran’ kepada penguasa dunia lalim. Mereka itulah yang akan menjadi ‘raja-raja’ di akhirat. Di dalam masjid itulah Allah SWT memperkenankan Nabi dan Rasul-Nya memimpin manusia-manusia beriman yang terbaik berdasarkan Al-Qur’an. Di dalam masjid itu juga, beliau siang-malam mendidik mereka supaya menghayati kehidupan sebagaimana dikehendaki Allah SWT.
Sejak Rasulullah SAW tinggal menetap di Madinah, beliau sibuk mencurahkan perhatian untuk meletakkan dasar-dasar yang sangat diperlukan guna menegakkan tugas-tugas risalahnya, yaitu : (1) Memperkokoh hubungan umat Islam dengan Tuhannya. (2) Memperkokoh hubungan antar umat Islam. (3) Mengatur hubungan antara umat Islam dengan orang-orang non-muslim.
Hubungan antara sesama kaum muslimin, oleh Rasulullah telah dibina atas dasar rasa persaudaraan yang sempurna. Persaudaraan ini menghapuskan kata ‘aku’, hingga setiap orang bergerak dengan semangat dan jiwa kemasyarakatan tanpa memandang dirinya secara terpisah dari masyarakat. Dengan persaudaraan seperti itu berarti lenyaplah fanatisme kesukuan ala jahiliyah dan tak ada semangat pengabdian selain kepada agama Islam. Runtuhlah sudah semua bentuk diskriminasi keturunan, warna kulit dan asal-usul kedaerahan atau kebangsaan. Mundur dan majunya seseorang tergantung pada kepribadian dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Perasaan mengutamakan kepentingan bersama dalam suka maupun duka amat menyatu dengan semangat persaudaraan, sehingga masyarakat yang baru terbentuk itu dipenuhi dengan teladan mulia. Kaum Anshar sangat hormat kepada saudara-saudaranya, kaum Muhajirin. Setiap muslim yang datang ke rumah keluarga kaum Anshar pasti diterima dengan baik. Kaum Muhajirin sangat menghargai keikhlasan budi kaum Anshar, namun mereka hanya mau menerima bantuan dari kaum Anshar sesuai dengan jerih-payah yang mereka curahkan di dalam suatu pekerjaan.
Rasululah SAW menjadikan tali persaudaraan sebagai ikatan perjanjian yang nyata, bukan hanya sekadar ucapan yang tak berarti. Pada masa itu Rasululah ibarat abang tertua bagi jamaah kaum yang beriman. Beliau tidak mengistimewakan diri dengan gelar kebesaran. Sebuah Hadist meriwayatkan bahwa beliau pernah menegaskan: [note: perlu riwayatnya]
“Sekiranya aku mengangkat seorang saudara dari umatku, tentu aku telah mengangkatnya – yakni Abu Bakar – tetapi persaudaraan Islam adalah lebih afdhal.”
Muhammad al-Ghazali dalam bukunya Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad menulis, persaudaraan sejati tidak mungkin tumbuh di dalam suatu lingkungan yang bermutu rendah. Dalam lingkungan masyarakat yang masih dikuasai oleh kebodohan, kemerosotan akhlak dan kekejaman, persaudaraan sejati dan rasa cinta kasih tak akan dapat tumbuh subur. Seandainya para sahabat Nabi SAW tidak berperangai luhur dan tidak dipersatukan oleh prinsip-prinsip agung, dunia tidak akan mencatat adanya persaudaraan sejati yang semata-mata karena Allah.
Mengenai hubungan antara muslim dengan non-muslim, Rasululah SAW telah menetapkan aturan-aturan yang sangat toleran, yang belum dikenal di zaman yang penuh dengan fanatisme kesukuan dan kecongkakan ras. Siapapun yang beranggapan bahwa Islam adalah agama yang tidak bisa menerima prinsip hidup berdampingan dengan agama lain, dan bahwa kaum Muslim adalah orang-orang yang berambisi menguasai dunia, berarti dia telah salah memahami Islam atau termakan oleh omongan pihak lain.
Ketika Nabi SAW tiba di Madinah beliau menyaksikan orang-orang Yahudi telah lama bermukim di kota itu dan hidup bersama-sama kaum musyrikin. Beliau sama sekali tidak berencana untuk menyingkirkan mereka. Bahkan beliau dapat menerima keberadaan orang-orang Yahudi dan paganisme di kota itu. Beberapa waktu kemudian beliau menawarkan perjanjian perdamaian kepada dua golongan itu atas dasar kebebasan masing-masing pihak memeluk agamanya sendiri.
Dalam Piagam Madinah kebebasan beragama benar-benar dijamin sehingga di dalamnya tidak tersirat maksud untuk menyerang suatu kelompok atau menindas kaum lemah. Bahkan menunjukkan kewajiban semua pihak yang berjanji supaya menolong orang yang mendapat perlakuan zalim, menjaga dan memelihara hubungan baik dengan tetangga, melindungi dan memelihara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat. Begitulah gambaran singkat masyarakat Madinah di zaman Rasululah SAW.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jihad Tertinggi

0 komentar

Jumat, 09 Oktober 2009

Nabi berbicara tentang tingkatan tertinggi yang dapat dicapai selama hidup di dunia, dan pernyataan Beliau tentang hal ini disebut hadis qudsi karena kata-katanya langsung dari Allah : “Hambaku tidak henti-hentinya mendekati-Ku dengan taat dan tulus, hingga Aku mencintainya; dan ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, menjadi penglihatannya saat ia melihat, dan menjadi tangannya saat ia menggapai, dan menjadi kakinya saat ia melangkah.”
Bentuk ketaatan tertinggi adalah dzikrullah, yang juga disebut ‘mengingat Allah atau menyebut nama-Nya’. Pada salah satu wahyu pertama Nabi diperintahkan: “Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Q.S. 73 : 8).

Wahyu berikutnya mengatakan : ”Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Dan mengingat Allah adalah lebih utama dari ibadah-ibadah yang lain.” (Q.S. 29 : 45). Bahwa mengingat Allah adalah penyembuh dari segala rupa penyakit hati ditegaskan oleh Rasulullah : “Segala sesuatu yang berkarat ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah mengingat Allah.”

Ketika ditanya tentang siapa tertinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kebangkitan, Beliau menjawab : “Lelaki atau perempuan yang senantiasa berdzikir kepada (mengingat) Allah.” Dan saat ditanya, apakah kedudukan orang tersebut lebih tinggi dari orang berjuang di jalan Allah, Beliau menjawab : “Meskipun ia mengacungkan pedangnya kepada orang kafir dan musrik, hingga semuanya hancur dan pedangnya berlumuran darah, mengingat Allah tetap lebih utama tingkatannya.”

Bahkan di sepanjang perjalanan pulang ke Madinah sesudah kemenangan atas Mekah dan Hunayn, Nabi menuturkan kepada beberapa sahabatnya : “Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Salah seorang bertanya : “Apa jihad yang lebih besar itu, hai Rasulullah?” Beliau menjawqab : “Jihad melawan hawa nafsu.”
Jiwa terendah dinyatakan oleh Al Quran : “Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Q.S. 12 : 53). Jiwa yang baik, yaitu kesadaran, disebut : “Jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.” (Q.S. 75 : 2). Dan yang disebut jihad yang lebih besar adalah, dengan bantuan roh keimanan melawan jiwa rendah (hawa nafsu) itu tadi.

Jiwa yang telah memenangkan pertarungan disebut ‘jiwa yang tenang’. Jiwa yang telah mencapai tingkatan tertinggi, yang dimiliki orang-orang terkemuka (al-sabiqun al-awwalun), para hamba Allah (ibad Allah), orang-orang yang dekat dengan Allah (al-muqarrabun). Jiwa yang sempurna ini disapa Al Quran dengan kata-kata : “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan rida lagi diridai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku dan masuklah ke dalam surge-Ku.” v(Q.S. 89 : 27 – 30).

Nabi sering kali berbincang tentang keunggulan beberapa sahabatnya di atas yang lain. Di Mekah, pada masa kemenangan, Khalid dengan marah menegur Abd al-Rahman ibn Awf yang menentangnya, Nabi berkata : “Tenanglah Khalid, biarkanlah para sahabatku, karena jika engkau memiliki emas segunung Uhud dan dibelanjakan di jalan Allah, engkau tetap tidak akan menyamai kebaikan seorang pun dari sahabatku.”

Dihimpun dari beberapa sumber
Bandung, 25 September 2009
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cahaya di atas Cahaya

1 komentar
Al Quran tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya adalah ‘Cahaya’, bahkan Al Quran dapat disebut ‘Kitab Cahaya’. Sebab, kandungannya terus-menerus memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat Cahaya—yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Cahaya Ilahi—dapat ditafsirkan sebagai empat tingkat pencerahan sebagaimana terlukiskan dalam ayat berikut :

Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat sebuah misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur dan maupun di barat, yang minyaknya saja nyaris menyala sendirinya walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah menuntun kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah mengetahui segala sesuatu (Q.S. 24: 35).

Pertama, ada misykat yang dipancari cahaya, namun bukan cahaya itu sendiri. Lalu, ada kaca kristal, di atasnya lagi kemilau minyak; dan terakhir adalah cahaya itu sendiri. Pengungkapan simbol-simbol itu mengingatkan pada ayat lain yang dimulai dengan kalimat yang sama, ”Tuhan membuat berbagai perumpamaan bagi manusia,” dengan tambahan penegasan, ”agar mereka mau berpikir” ( Q.S. 26: 35).

Banyak penafsir Alquran, termasuk mufasir terdahulu, menuturkan bahwa misykat itu adalah dada orang beriman, dan kaca adalah hatinya. ’Abd Allah ibn ’Abbas meriwayatkan apa yang didengar oleh ayahnya dan Nabi sendiri, yang berkata, ”Hidayah Tuhan di dalam hati orang beriman adalah ibarat minyak murni yang berkilau sebelum disentuh api, dan ketika disentuh api kemilaunya bertambah-tambah. Begitulah hati orang beriman: ia bertindak dengan petunjuk hingga pengetahuan datang kepadanya.”

Dalam Ayat Cahaya, perbedaan tingkat tidak ditunjukkan secara langsung, melainkan secara simbolik. Namun, di ayat yang lain, terutama pada wahyu-wahyu pertama, ditunjukkan secara lebih eksplisit. Salah satunya menyatakan bahwa manusia dibagi dalam tiga kelompok: gulongan kanan, golongan kiri, dan golongan terkemuka. Golongan kanan akan selamat, sementara golongan kiri akan celaka. Sedangkan golongan terkemuka adalah pemangku tingkat iman tertinggi, yang disebut sebagai hamba Tuhan (’ibad Allah), disebut juga, mereka berada di sisi Allah (al-muqarrabun) dan julukan ini disandangkan pula bagi para malaikat tertinggi untuk dibedakan dari malaikat lainnya.

Tingkatan tertinggi juga dinyatakan Alquran secara langsung ketika berbicara tentang hati. Dikatakan, ”Bukanlah mata yang buta, namun yang buta adalah hati yang berada di dalam dada” (Q.S. 22: 46). Nabi di sisi lain, sebagaimana para nabi sebelumnya, mengatakan bahwa hatinya terjaga, yang berarti matanya terbuka. Dan Alquran menunjukkan bahwa hal itu dapat terjadi juga pada orang lain, kendati dalam kadar tertentu, karena sesekali Alquran menyebut secara langsung ”orang-orang yang memiliki hati” (Q.S. 12: 111; 13: 19). Hadis riwayat Abu Bakr menyatakan bahwa Nabi bersabda, ”Allah mengangkat derajatmu bukan melalui banyaknya shalat dan berpuasa, namun berdasarkan dengan kebaikan hatimu.”

Disarikan dari beberapa sumber
Bekasi, 09 Oktober 2009
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS